![]() |
| Foto: Hefry Hendriko |
Sabtu sore, 26 Januari 2026, suasana di Stasi St. Paulus Riangpao tampak berbeda. Jarum jam bergerak menuju malam, namun semangat umat tidak luntur saat menyambut kehadiran tim DPP Paroki Sta. Maria Goretti Waiwadan yang didampingi langsung oleh Rm. Yansen Raring. Pertemuan Pleno ini menjadi ruang rindu sekaligus ruang evaluasi bagi 36 KK atau 139 jiwa yang menetap di stasi ini.
Acara yang dipandu dengan apik oleh Bapak Hermanus Peka Kia ini dibuka dengan pesan sederhana namun mendalam dari Ketua Dewan Stasi, Bapak Daruk Masan. "Mari kita sama-sama bekerja," ujarnya singkat, membakar semangat gotong royong umat.
Dalam laporannya, Bapak Daruk memaparkan Data umat di Stasi dan progres pembangunan fisik yang sedang berjalan, mulai dari pembangunan kapela hingga akses jalan. Satu hal yang mencuri perhatian dan mendapat apresiasi tinggi dari Rm. Yansen adalah sistem "Gemohing". Umat Riangpao secara swadaya bekerja membangun jalan, di mana upah atau hasilnya digunakan untuk menalangi dana pembangunan gereja dan iuran paroki. Sebuah ekspresi iman yang sangat nyata dalam bentuk aksi sosial.
Diskusi berlangsung hangat saat memasuki sesi dialog. Bapak Petrus Pati dan Bapak Petu memberikan berbagai masukan, mulai dari transparansi keuangan, usulan publikasi kegiatan pastoral melalui media sosial, hingga ide pembuatan kalender paroki. Menanggapi kekhawatiran umat mengenai beban pembangunan gereja, Rm. Yansen memberikan penguatan yang menyejukkan: "Kamu tidak sendiri," tegas beliau, meyakinkan umat bahwa paroki akan selalu hadir mendampingi.
Kehangatan Pleno berlanjut hingga malam hari saat membahas masa depan anak-anak. Ibu Rin Hokor menyampaikan kerinduannya agar anak-anak di Riangpao mendapatkan pendampingan iman (Sekami). Menanggapi hal ini, muncul solusi kolaboratif untuk memberdayakan guru-guru lokal sebagai animator, bahkan Rm. Yansen berjanji akan mengupayakan kehadiran suster untuk memberikan "sentuhan kasih" bagi anak-anak di sana.
Draft mengenai penyederhanaan hajatan juga dibahas. Rm. Yansen meluruskan pandangan umat bahwa gereja tidak pernah mewajibkan pesta pora dalam penerimaan sakramen. Agar keputusan ini adil dan merata, atas usulan Bapak Peka, draf penyederhanaan ini akan dibawa ke tingkat lingkungan untuk dibahas lebih mendalam sebelum diputuskan di pleno paroki.
Menjelang akhir acara, Romo Yansen memaparkan arah gerak Keuskupan tahun 2026 yang berfokus pada Pemberdayaan Ekonomi Umat. Beberapa aksi nyata yang akan dilakukan antara lain kedaulatan pangan, ketahanan komunitas, hingga perhatian khusus bagi keluarga yang merantau.
Pertemuan ditutup dengan sebuah refleksi mendalam dari Rm. Yansen. Beliau menekankan bahwa cara kerja Gereja harus mencakup tiga hal: Metode, Aksi, dan Ekspresi Iman. Pleno malam itu berakhir dengan satu tekad bulat: membangun kesepahaman untuk terus berjalan bersama sebagai satu keluarga besar dalam iman. (Teks: Hefry Hendriko)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar